Minggu, 01 Februari 2015

Namanya Parman

Namanya Parman. Entah siapa nama lengkapnya. Mungkin Suparman, atau mungkin Parmanto, atau nama-nama orang dari suku jawa pada umumnya, atau mungkin hanya sekedar Parman. Entahlah. Selama ini aku hanya memanggilnya dengan sebutan Mas Parman. Karena dia memang lebih tua beberapa tahun dariku. Tubuhnya kecil, kulitnya berwarna hitam, rambutnya – seingatku – sangat jarang terlihat rapi, apalagi giginya yang memang tidak rapi. Suaranya tidak cempreng, tapi kalau tidak terbiasa, akan sangat susah untuk mengerti apa yang ia katakan. Seperti mendengar orang berbicara sambil mengunyah kantong kresek.

Tapi, seperti pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya. Mas Parman adalah orang yang sangat berjiwa sosial, walaupun ia bukan orang berada – bahkan bisa dibilang ia orang yang berkekurangan. Lalu bagaimana ia menyalurkan jiwa sosialnya kalau ia sendiri kekurangan. Dengan tenaganya, tentu saja, yang akan ia berikan dengan sukarela.

Setiap ada kegiatan di RT tempatku tinggal, Mas Parman pasti turut serta sebagai seksi super sibuk. Kegiatan tujuh belasan, kegiatan kerja bakti, kegiatan ronda. Bahkan mungkin bisa dikatakan Mas Parman adalah bayangan dari Pak Kardi – Pak RT di tempatku – yang kinerjanya super keren itu sampai-sampai dia terpilih jadi ketua RT tiga kali berturut-turut.

Aku ingat ketika adikku harus mondok di rumah sakit karena tipus. Mas Parman adalah satu-satunya dari kaum bapak yang datang menjenguk. Selebihnya ibu-ibu. Bukan berarti bapak-bapak di tempatku tidak pernah menjenguk orang sakit, tapi biasanya bapak-bapak hanya menjenguk bapak-bapak yang sakit. Berbeda dengan ibu-ibu yang akan menjenguk siapapun yang sakit, baik itu anak-anak, ibu-ibu, bahkan, bapak-bapak juga. Tapi beda dengan Mas Parman. Semua warga yang sakit, tidak peduli masih kecil atau sudah besar, bapak-bapak atau ibu-ibu, pasti dia jenguk (dan ikut menyumbang walau jumlahnya mungkin yang paling kecil). Di situlah jiwa sosial Mas Parman terlihat.

Tapi kini aku sudah tidak bisa melihat lelaki kumal kecil yang berjiwa dan berhati putih itu. Sudah hampir empat tahun Mas Parman meninggalkan kami warga RT 32, Tegalrejo. Dia meninggal karena menyembah berhala kecil berkepala api. Ya, Mas Parman adalah perokok berat. Sangat disayangkan memang, di tengah kondisi ekonominya yang serba kekurangan, ia masih memaksakan membeli barang petaka yang malah membuatnya meninggalkan istri dan ke dua anaknya, bahkan anak keduanya baru berusia 2 bulan saat Mas Parman meninggal. Putri Mas Parman itu tidak akan bisa merasakan kehangatan pelukan seorang ayah di sisinya. Semoga kakaknya, yang saat ini berusia sekitar 10 tahun, bisa menggantikan peran Mas Parman sebagai ayah buat adiknya.


Mas Parman, banyak yang merindukannya. Aku tahu, karena ketika Pak RT menyatakan kerinduannya pada Mas Parman saat pertemuan warga, tidak sedikit warga yang ikut menitikkan air mata. Pria dengan jiwa besar itu dikalahkan oleh sakit paru-paru yang akhirnya merenggut jiwa dari tubuh kurus kerempengnya. Selamat jalan Mas Parman, semoga engkau tenang di sana.

1 komentar: