Namanya Parman. Entah siapa nama lengkapnya. Mungkin Suparman,
atau mungkin Parmanto, atau nama-nama orang dari suku jawa pada umumnya, atau
mungkin hanya sekedar Parman. Entahlah. Selama ini aku hanya memanggilnya
dengan sebutan Mas Parman. Karena dia memang lebih tua beberapa tahun dariku.
Tubuhnya kecil, kulitnya berwarna hitam, rambutnya – seingatku – sangat jarang
terlihat rapi, apalagi giginya yang memang tidak rapi. Suaranya tidak cempreng,
tapi kalau tidak terbiasa, akan sangat susah untuk mengerti apa yang ia katakan.
Seperti mendengar orang berbicara sambil mengunyah kantong kresek.
Tapi, seperti pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya. Mas
Parman adalah orang yang sangat berjiwa sosial, walaupun ia bukan orang berada –
bahkan bisa dibilang ia orang yang berkekurangan. Lalu bagaimana ia menyalurkan
jiwa sosialnya kalau ia sendiri kekurangan. Dengan tenaganya, tentu saja, yang
akan ia berikan dengan sukarela.
Setiap ada kegiatan di RT tempatku tinggal, Mas Parman pasti
turut serta sebagai seksi super sibuk. Kegiatan tujuh belasan, kegiatan kerja
bakti, kegiatan ronda. Bahkan mungkin bisa dikatakan Mas Parman adalah bayangan
dari Pak Kardi – Pak RT di tempatku – yang kinerjanya super keren itu
sampai-sampai dia terpilih jadi ketua RT tiga kali berturut-turut.
Aku ingat ketika adikku harus mondok di rumah sakit karena
tipus. Mas Parman adalah satu-satunya dari kaum bapak yang datang menjenguk.
Selebihnya ibu-ibu. Bukan berarti bapak-bapak di tempatku tidak pernah
menjenguk orang sakit, tapi biasanya bapak-bapak hanya menjenguk bapak-bapak
yang sakit. Berbeda dengan ibu-ibu yang akan menjenguk siapapun yang sakit,
baik itu anak-anak, ibu-ibu, bahkan, bapak-bapak juga. Tapi beda dengan Mas
Parman. Semua warga yang sakit, tidak peduli masih kecil atau sudah besar,
bapak-bapak atau ibu-ibu, pasti dia jenguk (dan ikut menyumbang walau jumlahnya
mungkin yang paling kecil). Di situlah jiwa sosial Mas Parman terlihat.
Tapi kini aku sudah tidak bisa melihat lelaki kumal kecil
yang berjiwa dan berhati putih itu. Sudah hampir empat tahun Mas Parman
meninggalkan kami warga RT 32, Tegalrejo. Dia meninggal karena menyembah
berhala kecil berkepala api. Ya, Mas Parman adalah perokok berat. Sangat
disayangkan memang, di tengah kondisi ekonominya yang serba kekurangan, ia
masih memaksakan membeli barang petaka yang malah membuatnya meninggalkan istri
dan ke dua anaknya, bahkan anak keduanya baru berusia 2 bulan saat Mas Parman
meninggal. Putri Mas Parman itu tidak akan bisa merasakan kehangatan pelukan
seorang ayah di sisinya. Semoga kakaknya, yang saat ini berusia sekitar 10
tahun, bisa menggantikan peran Mas Parman sebagai ayah buat adiknya.
Mas Parman, banyak yang merindukannya. Aku tahu, karena
ketika Pak RT menyatakan kerinduannya pada Mas Parman saat pertemuan warga, tidak
sedikit warga yang ikut menitikkan air mata. Pria dengan jiwa besar itu
dikalahkan oleh sakit paru-paru yang akhirnya merenggut jiwa dari tubuh kurus
kerempengnya. Selamat jalan Mas Parman, semoga engkau tenang di sana.
Ihh jadi sediiih
BalasHapus