Gue pernah ngebaca tulisan temen gue yang bunyinya I love me dan dengan suka rela gue langsung bilang, “Wah, elo egois!” Eh, gue langsung dapat bantahan dari temen gue yang laennya.
“Kok, elo bilang dia egois?”
“Lagian, dia cinta diri dia sendiri. Apa itu nggak egois namanya? Orang itu, kalau cinta, ya mencintai orang lain,” kata gue lagi.
“He..he.. hati-hati Ton. Lo salah kalau lo berpikiran begitu.”
“Salah? Salah apanya?”
“Ya, bukan salah sih, hanya kalau menurut gue itu kurang tepat. Begini deh, kalau lo mencintai seseorang itu, lo gimana?”
“Gimana ya..? Gue belum pernah pacaran sih,” jawab gue sambil garuk-garuk kepala plus nyengir.
“Ye... kalau itu mah gue juga udah tau! Tapi pernahkan elo suka sama seseorang?”
“Iya lah.. Gue kan normal. Eh, agak-agak normal ding.”
“Nah, ketika elo menyukai seseorang pasti semua yang lo liat adalah sisi baiknya. Lo nggak peduli orang mau ngomong apa, yang penting bagi lo adalah dia baik. Bener nggak?”
“Iya tuh.”
“Tapi, ketika perlahan-lahan lo liat sendiri kejelekan-kejelekan dia dan elo nggak suka serta nggak bisa menerima kejelekan-kejelekan itu, tiba-tiba aja lo jadi nggak suka dia secara keseluruhan. Itu artinya elo hanya suka ama dia, bukan mencintai dia.”
“Lho, emang kalau gue mencintai dia, seharusnya gimana?”
“Kalau emang elo mencintai seseorang, apapun kekurangan orang itu - walau elo nggak suka - lo bisa menerima dia apa adanya. Itulah cinta menurut gue. Orang kan nggak ada yang sempurna. Nah, ketika kita mencintai orang lain, kita harus bisa menerima dia apa adanya, menerima kekurangan kelebihan dia, baik buruknya dia. Ya gampangnya sih, menerima dia apa adanya secara penuh. Tidak setengah-setengah.”
“Hm, apa itu berarti mengakui kejelekan dan keburukannya?”
“Ya jelas. Sebelum elo menerima, tentu aja elo harus mengakuinya. Kalau nggak apa yang bakal lo ‘terima’. Iya kan?”
“Iya, ya.”
“Nah, begitu pula arti kalimat temen kita tadi. Dia mencintai dirinya sendiri bukan karena egois. Dia mencintai dirinya sendiri karena dia mengakui kekurangan dan kelebihannya dan menerima itu sebagai dirinya. Elo suka komputer kan? Nah, kalau komputer lo rusak, tapi lo nggak tau di mana kerusakannya, gimana elo ngebaikinya? Sama aja dengan diri kita. Kalau kita nggak tau atau nggak mau ngakuin kekurangan kita, gimana kita bisa jadi orang yang lebih baik. Iya nggak?”
“Iya, ya.”
“Lha iya. Kalau menurut gue sih gitu.”
“Tapi, kalau kita udah mencintai diri kita sendiri, gimana kita bisa mencintai orang lain? Abis dong cinta kita?”
“Ton, Ton, lo jadi orang naif banget sih!”
“Lho, bener kan?”
“Ya nggak dong! Cinta yang lo miliki cukup besar dan banyak untuk lo berikan ke siapa aja yang elo inginkan. Bahkan ke semua orang yang ada di dunia. Coba kalau kita semua melakukan hal itu, mencintai semua orang. Pasti bumi ini menjadi lebih indah untuk kita tempati. Ya nggak?! Lagian, menurut gue, kalau lo udah mencintai diri lo sendiri, lo akan lebih mudah mencintai orang lain, karena lo dengan sadar mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan kekurangannya sendiri. Dengan demikian lo bisa jadi lebih menghargai diri lo sendiri dan orang lain.”
“Iya, ya. Jadi kita harus mencintai diri kita sendiri nih?”
“Iya. Tapi jangan memuja diri lo sendiri berlebihan, ntar jadi narsis lho. Mencintai harus, memuja jangan.”
Sejak saat itu gue selalu berusaha untuk bisa mencintai diri gue sendiri, menerima semua kekurangan gue dan berusaha memperbaikinya. Susah sih, tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan. Namanya juga proses, yang penting gue nggak akan menyerah melakukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar