Minggu, 01 Februari 2015

Aku Kehilanganmu

Aku kehilanganmu
Bukan di tengah badai,
Tapi di tengah danau yang sepi

Aku kehilanganmu
Bukan di pancaran mentari
Tapi di tengah malam yang hening

Aku kehilanganmu

Meski kau bukan milikku

Me and I

Gue pernah ngebaca tulisan temen gue yang bunyinya I love me dan dengan suka rela gue langsung bilang, “Wah, elo egois!” Eh, gue langsung dapat bantahan dari temen gue yang laennya.

“Kok, elo bilang dia egois?”

“Lagian, dia cinta diri dia sendiri. Apa itu nggak egois namanya? Orang itu, kalau cinta, ya mencintai orang lain,” kata gue lagi.

“He..he.. hati-hati Ton. Lo salah kalau lo berpikiran begitu.”

“Salah? Salah apanya?”

“Ya, bukan salah sih, hanya kalau menurut gue itu kurang tepat. Begini deh, kalau lo mencintai seseorang itu, lo gimana?”

“Gimana ya..? Gue belum pernah pacaran sih,” jawab gue sambil garuk-garuk kepala plus nyengir.

“Ye... kalau itu mah gue juga udah tau! Tapi pernahkan elo suka sama seseorang?”

“Iya lah.. Gue kan normal. Eh, agak-agak normal ding.”

“Nah, ketika elo menyukai seseorang pasti semua yang lo liat adalah sisi baiknya. Lo nggak peduli orang mau ngomong apa, yang penting bagi lo adalah dia baik. Bener nggak?”

“Iya tuh.”

“Tapi, ketika perlahan-lahan lo liat sendiri kejelekan-kejelekan dia dan elo nggak suka serta nggak bisa menerima kejelekan-kejelekan itu, tiba-tiba aja lo jadi nggak suka dia secara keseluruhan. Itu artinya elo hanya suka ama dia, bukan mencintai dia.”

“Lho, emang kalau gue mencintai dia, seharusnya gimana?”

“Kalau emang elo mencintai seseorang, apapun kekurangan orang itu - walau elo nggak suka - lo bisa menerima dia apa adanya. Itulah cinta menurut gue. Orang kan nggak ada yang sempurna. Nah, ketika kita mencintai orang lain, kita harus bisa menerima dia apa adanya, menerima kekurangan kelebihan dia, baik buruknya dia. Ya gampangnya sih, menerima dia apa adanya secara penuh. Tidak setengah-setengah.”

“Hm, apa itu berarti mengakui kejelekan dan keburukannya?”

“Ya jelas. Sebelum elo menerima, tentu aja elo harus mengakuinya. Kalau nggak apa yang bakal lo ‘terima’. Iya kan?”

“Iya, ya.”

“Nah, begitu pula arti kalimat temen kita tadi. Dia mencintai dirinya sendiri bukan karena egois. Dia mencintai dirinya sendiri karena dia mengakui kekurangan dan kelebihannya dan menerima itu sebagai dirinya. Elo suka komputer kan? Nah, kalau komputer lo rusak, tapi lo nggak tau di mana kerusakannya, gimana elo ngebaikinya? Sama aja dengan diri kita. Kalau kita nggak tau atau nggak mau ngakuin kekurangan kita, gimana kita bisa jadi orang yang lebih baik. Iya nggak?”

“Iya, ya.”

“Lha iya. Kalau menurut gue sih gitu.”

“Tapi, kalau kita udah mencintai diri kita sendiri, gimana kita bisa mencintai orang lain? Abis dong cinta kita?”

“Ton, Ton, lo jadi orang naif banget sih!”

“Lho, bener kan?”

“Ya nggak dong! Cinta yang lo miliki cukup besar dan banyak untuk lo berikan ke siapa aja yang elo inginkan. Bahkan ke semua orang yang ada di dunia. Coba kalau kita semua melakukan hal itu, mencintai semua orang. Pasti bumi ini menjadi lebih indah untuk kita tempati. Ya nggak?! Lagian, menurut gue, kalau lo udah mencintai diri lo sendiri, lo akan lebih mudah mencintai orang lain, karena lo dengan sadar mengakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan kekurangannya sendiri. Dengan demikian lo bisa jadi lebih menghargai diri lo sendiri dan orang lain.”

“Iya, ya. Jadi kita harus mencintai diri kita sendiri nih?”

“Iya. Tapi jangan memuja diri lo sendiri berlebihan, ntar jadi narsis lho. Mencintai harus, memuja jangan.”

Sejak saat itu gue selalu berusaha untuk bisa mencintai diri gue sendiri, menerima semua kekurangan gue dan berusaha memperbaikinya. Susah sih, tapi bukan berarti nggak bisa dilakukan. Namanya juga proses, yang penting gue nggak akan menyerah melakukannya.

Tidak

Aku tidak melupakanmu.
Tidak wajahmu, tidak suaramu, tidak senyummu.
Karena, cuma itu yang bisa kumiliki darimu.

Ingatan tentangmu

Tiara

Pagi yang cerah. Hujan semalam masih meninggalkan embun, membuat suasana terasa sejuk. Serangga-serangga yang baru merasakan indahnya dunia terbang kian kemari menyemarakkan pagi. Hijau daun dan bermacam warna bunga yang indah menyegarkan pandangan mata setelah semalaman tidak tidur. Betapa indahnya pagi ini. Ingin rasanya aku menyimpannya abadi dalam hatiku, untuk nanti kubagi bersamamu. Yah, apa daya, ini sebuah momen yang hanya bisa dinikmati sesaat. Karena, bagiku, bila dia diabadikan dalam foto hanya akan mengurangi keindahannya.
Kulangkahkan kakiku meninggalkan halaman rumah sakit yang menaungimu dari hujan dan panas selama dua minggu terakhir. Kesedihan yang menyesak di dada belum juga hilang, walau sedikit terobati dengan pemandangan pagi ini. Aku mendekap kedua belah tanganku, menghalau dingin yang serasa menusuk tulang. Jaket tebal pemberianmu ternyata masih tak sanggup mengurangi rasa dingin ini, seperti kata-katamu yang tak sanggup mencegah pilunya hati.
“Becak Mas?” Tanya seorang tukang becak. Aku hanya menggeleng dan tersenyum padanya. Mengapa? Aku masih belum sanggup menerima kenyataan ini. Masih terbayang saat kita pertama kali berkenalan di rumah sakit ini.
“Siapa yang sakit?” Tanyaku.
“Ah nggak, hanya check up kok.”
“Ehm, boleh kenalan?” Aku memberanikan diri.
“Tiara. Kianti Wahyuning Tiara,” jawabmu langsung sambil tersenyum. Senyum yang sampai saat ini masih tersimpan di hati dan selalu ingin kulihat dari wajahmu.
Yah, kenangan yang selalu muncul dan menyesakkan dada. Tahukah kau, dalam kesedihanku, aku marah padamu karena kau tak percaya padaku. Aku memang bukan orang terkasihmu, tapi aku orang yang paling dekat denganmu di perantauan ini. Banyak hal sudah kita bagi bersama. Tapi mengapa kau masih menyembunyikan sesuatu yang justru sangat aku sesali. Aku tahu kau tegar, tapi jangan mencoba menghadapi cobaan itu sendirian. Aku di sini bersamamu, untuk saling berbagi rasa, berbagi duka, berbagi cerita.
“Aku kuat Han,” ujarmu tersenyum kuyu saat aku tahu kau menyimpan sesuatu.
“Tapi itu bukan berarti kau harus menyembunyikannya dariku. Aku teman baikmu, Tiara. Aku akan rela membantumu, karena aku sayang kamu. Kau tak bisa mengandalkan Dody yang sekarang sibuk dengan kuliahnya di Amerika sana dan melupakan kekasihnya,” ujarku.
Kau hanya bisa memandangku dengan amarah tertahan. Aku tahu kau tersinggung saat aku menyebut-nyebut kekasih yang sangat kau cintai itu. Aku memang sering menganggap Dody sebagai seorang pria yang tidak bertanggung jawab karena meninggalkanmu sendirian di saat seperti ini tanpa pernah memberikan sedikitpun perhatiannya padamu. Aku muak pada pria seperti itu. Bagiku, Dody tidak pantas mendapatkanmu. Kau terlalu baik untuknya.
Bukankah kau sering mengeluh padaku tentang sikap Dody yang sangat jarang mengirimimu surat. Juga tentang sikapnya padamu yang tidak tampak memendam rindu saat bertemu.
“Apa dia sudah terpikat pada gadis bule, ya Han?” Tanyamu suatu hari.
“Mungkin saja,” jawabku.
“Tak mungkin dia tega seperti itu. Aku percaya padanya.”
“Kau boleh saja percaya padanya. Tapi jika dia jarang memberikan kabarnya padamu, kau harus curiga. Bukannya aku bermaksud menakut-nakutimu. Aku hanya ingin agar kau tidak terlalu percaya pada perasaanmu,” lanjutku kemudian.
Ah, entahlah. Walaupun kau telah berulang kali meragukan kesetiaan Dody, dan berulang kali pula aku memberikan nasihat, masih saja kau kembali padanya.
*****
Seminggu berlalu sejak pagi itu. Dan aku masih merindukan saat-saat bersamamu. Rasanya bayanganmu tak pernah mau meninggalkan dinding-dinding kamarku. Entahlah, mengapa baru sekarang aku merasa begitu kesepian, walaupun bayanganmu di mana-mana.
Sudah dua hari aku berada di kota tercinta, kampung halamanku. Mencoba menjauhi tempat-tempat yang sering kita kunjungi bersama di kota tempat kita menuntut ilmu. Bukannya aku ingin melupakanmu, tidak. Aku hanya mencoba untuk sejenak menenangkan diri, aku tidak ingin terlarut dengan segala kenangan yang selalu muncul setiap kali aku melewati tempat-tempat tersebut.
Aku bangun saat jam di dinding menunjukkan pukul 04.45 pagi. Setelah shalat subuh dan beberes sebentar, aku langsung mengenakan sepatu kets pemberianmu di hari ulang tahunku.
“Mau kemana Han?” Tanya mama saat melihatku.
“Joging Ma.”
“Oo, ya sudah, kejar papamu. Dia sudah pergi dari tadi.”
“Ok Ma.”
Sebenarnya aku tak berniat untuk joging, aku hanya ingin menikmati indahnya pagi hari. Sejak hari itu, aku memang selalu terobsesi menikmati pagi dan baru sekarang aku bisa melakukannya. Aku berharap dengan menikmati pagi dapat sedikit menghapus kepedihan yang saat ini kembali muncul. Tapi ternyata aku masih tak bisa melepaskan bayanganmu. Justru saat aku melewati jalan-jalan di daerah ini aku teringat saat kita bertemu untuk kedua kalinya.
“Hai, gimana kabarmu?” Sapamu saat itu.
“Oh, hai. Baik, baik. Eh, kamu! Emangnya rumahmu di mana? Kok bisa sampai sini?” Sahutku terkejut karena tak menyangka akan bertemu denganmu.
“Aku tinggal di kompleks ini kok, kamu aja yang nggak tau.”
“Nggak mungkin! Aku mengenal semua penghuni kompleks ini. Kalau kamu memang tinggal di kompleks ini, pasti kamu orang baru,” seruku.
“Memang, aku baru pindah dari Balikpapan, seminggu yang lalu,” ujarmu.
“Wah, kamu nempatin rumahnya siapa?” Tanyaku lebih lanjut.
“Nggak tau, pokoknya rumah yang di pojok jalan II,” sahutmu tersenyum manis.
“Rumah yang pagarnya bercat hijau itu?”
“Yap!”
Lalu obrolan kita mengalir seperti air, layaknya dua teman akrab yang lama tak berjumpa. Joging bersama, selanjutnya menjadi acara rutin mingguan kita. Bahkan kita lanjutkan saat kita kembali ke kota tempat kita menuntut ilmu. Kenangan-kenangan yang tercipta setiap kali kita joging itulah yang saat ini muncul dan kembali membuatku pilu karena tanpamu di sisiku lagi.
Aku teringat saat aku tidak menemukanmu di kampus selama tiga hari. Aku marah. Marah sekali. Karena kau tidak memberitahukanku saat kau masuk rumah sakit. Hari itu setelah selesai kuliah penganggaran aku langsung ke rumah sakit di mana kau dirawat.
“Sudahlah Han, aku nggak apa-apa kok,” ujarmu saat melihatku cemas.
“Kau selalu mengatakan nggak apa-apa. Bahkan saat kau pingsan pun, hal pertama yang kau ucapkan ketika bangun adalah ‘Aku nggak apa-apa.’ Aku temanmu Ra!” Sahutku marah.
“Aku tak ingin membuatmu cemas.”
“Cemas? Cemas katamu!? Kau telah membuatku marah. Kau tahu aku menyayangimu. Aku sayang kamu, Ra. Aku sayang kamu lebih dari yang kau kira. Tapi kau tak pernah mau mengerti. Kau terlalu egois.”
“Han, aku tahu kau menyayangiku, aku tahu. Aku juga sayang kamu Han. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku.”
“Lalu mengapa kau lakukan ini?”
“Aku tak ingin kau sedih. Aku tahu kau begitu perhatian padaku. Kau pasti akan menghabiskan waktumu lebih banyak bersamaku kalau kau tahu aku sakit. Itu yang tidak kuinginkan. Aku tak ingin dikasihani. Aku ingin hidup seperti orang normal. Aku tak ingin kau perhatikan, kau lindungi seperti porselein antik dari Cina.”
“Tapi aku rela melakukannya jika perlu.”
“Aku tahu, justru karena itu aku tak memberitahumu. Aku tak ingin kau perlakukan berlebihan. Aku tak ingin kau menyia-nyiakan waktumu yang bisa kau pakai untuk menyiapkan diri mendapatkan beasiswa ke luar negeri yang selama ini menjadi impianmu. Aku ingin kau berhasil. Aku ingin kau bisa mencapai mimpimu itu. Karena itu, aku ingin kau mengganggapku sehat yang pasti tidak bisa kau lakukan jika kau tahu aku sekarat.”
“Ra, hati-hati kalau ngomong.”
“Tidak Han, aku tahu aku sudah hampir selesai. Dokter sudah mengangkat tangan. Tak ada lagi yang dapat dilakukan dokter selain terus mencoba mempertahankan selembar nyawa di tubuhku untuk tetap tinggal walau mungkin hanya untuk satu dua hari. Kemarin pagi dokter Irene sudah menelepon mama, meminta beliau untuk datang menemaniku di sini.”
Ketegaran. Satu kata yang selalu muncul setiap kali aku mengingatmu. Dan itu pula yang sekarang coba aku lakukan. Aku belajar banyak tentang kehidupan darimu. Bagaimana untuk tetap tegar menghadapi segala cobaan, mensyukuri segala rahmat tuhan kepada kita, serta memandang kehidupan dengan penuh makna.
*****
Matahari menggantung di sudut barat langit. Sinarnya yang jingga seakan mengucapkan selamat tinggal pada bumi setelah seharian ia menjalankan tugas. Daun-daun dan bunga kamboja yang gugur berserakan di tanah basah. Beberapa tetes air, sisa hujan tadi, yang masih menggantung di dedaunan mulai jatuh. Aku masih berdiri di sini. Dengan jaket dan celana jeans yang basah, di samping gundukan tanah tempat kau berbaring dengan tenang.
Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku merenungi apa yang telah kita jalani bersama. Dan untuk kesekian kalinya pula aku melakukannya di peristirahatanmu yang terakhir. Aku merasa kau ada di sampingku untuk membantuku memahami kehidupan ini. Mengenai pendeknya waktu yang disediakan sang pencipta untuk menjalani hidup dan mengenai betapa berharganya hidup itu.
Perlahan aku beranjak meninggalkan tanah pekuburan ini. Tanah tempat seorang sahabat yang telah memberi arti dalam hidupku, beristirahat dalam damai. Masih tersimpan dalam ingatanku saat kita pertama kali berkenalan.
“Tiara. Kianti Wahyuning Tiara,” jawabmu langsung sambil tersenyum.


Juli 6, 2000

Namanya Parman

Namanya Parman. Entah siapa nama lengkapnya. Mungkin Suparman, atau mungkin Parmanto, atau nama-nama orang dari suku jawa pada umumnya, atau mungkin hanya sekedar Parman. Entahlah. Selama ini aku hanya memanggilnya dengan sebutan Mas Parman. Karena dia memang lebih tua beberapa tahun dariku. Tubuhnya kecil, kulitnya berwarna hitam, rambutnya – seingatku – sangat jarang terlihat rapi, apalagi giginya yang memang tidak rapi. Suaranya tidak cempreng, tapi kalau tidak terbiasa, akan sangat susah untuk mengerti apa yang ia katakan. Seperti mendengar orang berbicara sambil mengunyah kantong kresek.

Tapi, seperti pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya. Mas Parman adalah orang yang sangat berjiwa sosial, walaupun ia bukan orang berada – bahkan bisa dibilang ia orang yang berkekurangan. Lalu bagaimana ia menyalurkan jiwa sosialnya kalau ia sendiri kekurangan. Dengan tenaganya, tentu saja, yang akan ia berikan dengan sukarela.

Setiap ada kegiatan di RT tempatku tinggal, Mas Parman pasti turut serta sebagai seksi super sibuk. Kegiatan tujuh belasan, kegiatan kerja bakti, kegiatan ronda. Bahkan mungkin bisa dikatakan Mas Parman adalah bayangan dari Pak Kardi – Pak RT di tempatku – yang kinerjanya super keren itu sampai-sampai dia terpilih jadi ketua RT tiga kali berturut-turut.

Aku ingat ketika adikku harus mondok di rumah sakit karena tipus. Mas Parman adalah satu-satunya dari kaum bapak yang datang menjenguk. Selebihnya ibu-ibu. Bukan berarti bapak-bapak di tempatku tidak pernah menjenguk orang sakit, tapi biasanya bapak-bapak hanya menjenguk bapak-bapak yang sakit. Berbeda dengan ibu-ibu yang akan menjenguk siapapun yang sakit, baik itu anak-anak, ibu-ibu, bahkan, bapak-bapak juga. Tapi beda dengan Mas Parman. Semua warga yang sakit, tidak peduli masih kecil atau sudah besar, bapak-bapak atau ibu-ibu, pasti dia jenguk (dan ikut menyumbang walau jumlahnya mungkin yang paling kecil). Di situlah jiwa sosial Mas Parman terlihat.

Tapi kini aku sudah tidak bisa melihat lelaki kumal kecil yang berjiwa dan berhati putih itu. Sudah hampir empat tahun Mas Parman meninggalkan kami warga RT 32, Tegalrejo. Dia meninggal karena menyembah berhala kecil berkepala api. Ya, Mas Parman adalah perokok berat. Sangat disayangkan memang, di tengah kondisi ekonominya yang serba kekurangan, ia masih memaksakan membeli barang petaka yang malah membuatnya meninggalkan istri dan ke dua anaknya, bahkan anak keduanya baru berusia 2 bulan saat Mas Parman meninggal. Putri Mas Parman itu tidak akan bisa merasakan kehangatan pelukan seorang ayah di sisinya. Semoga kakaknya, yang saat ini berusia sekitar 10 tahun, bisa menggantikan peran Mas Parman sebagai ayah buat adiknya.


Mas Parman, banyak yang merindukannya. Aku tahu, karena ketika Pak RT menyatakan kerinduannya pada Mas Parman saat pertemuan warga, tidak sedikit warga yang ikut menitikkan air mata. Pria dengan jiwa besar itu dikalahkan oleh sakit paru-paru yang akhirnya merenggut jiwa dari tubuh kurus kerempengnya. Selamat jalan Mas Parman, semoga engkau tenang di sana.