Pagi yang cerah. Hujan
semalam masih meninggalkan embun, membuat suasana terasa sejuk. Serangga-serangga
yang baru merasakan indahnya dunia terbang kian kemari menyemarakkan pagi.
Hijau daun dan bermacam warna bunga yang indah menyegarkan pandangan mata
setelah semalaman tidak tidur. Betapa indahnya pagi ini. Ingin rasanya aku
menyimpannya abadi dalam hatiku, untuk nanti kubagi bersamamu. Yah, apa daya,
ini sebuah momen yang hanya bisa dinikmati sesaat. Karena, bagiku, bila dia
diabadikan dalam foto hanya akan mengurangi keindahannya.
Kulangkahkan kakiku
meninggalkan halaman rumah sakit yang menaungimu dari hujan dan panas selama
dua minggu terakhir. Kesedihan yang menyesak di dada belum juga hilang, walau
sedikit terobati dengan pemandangan pagi ini. Aku mendekap kedua belah
tanganku, menghalau dingin yang serasa menusuk tulang. Jaket tebal pemberianmu
ternyata masih tak sanggup mengurangi rasa dingin ini, seperti kata-katamu yang
tak sanggup mencegah pilunya hati.
“Becak Mas?” Tanya
seorang tukang becak. Aku hanya menggeleng dan tersenyum padanya. Mengapa? Aku
masih belum sanggup menerima kenyataan ini. Masih terbayang saat kita pertama
kali berkenalan di rumah sakit ini.
“Siapa yang sakit?”
Tanyaku.
“Ah nggak, hanya check up kok.”
“Ehm, boleh kenalan?”
Aku memberanikan diri.
“Tiara. Kianti
Wahyuning Tiara,” jawabmu langsung sambil tersenyum. Senyum yang sampai saat
ini masih tersimpan di hati dan selalu
ingin kulihat dari wajahmu.
Yah, kenangan yang selalu muncul dan menyesakkan dada. Tahukah kau, dalam kesedihanku, aku marah
padamu karena kau tak percaya padaku. Aku memang bukan orang terkasihmu, tapi
aku orang yang paling dekat denganmu di perantauan
ini. Banyak hal sudah kita bagi bersama. Tapi mengapa kau masih menyembunyikan
sesuatu yang justru sangat aku sesali. Aku tahu kau tegar, tapi jangan mencoba
menghadapi cobaan itu sendirian. Aku di sini bersamamu, untuk saling berbagi
rasa, berbagi duka, berbagi cerita.
“Aku kuat Han,” ujarmu
tersenyum kuyu saat aku tahu kau menyimpan sesuatu.
“Tapi itu bukan
berarti kau harus menyembunyikannya dariku. Aku teman baikmu, Tiara. Aku akan
rela membantumu, karena aku sayang kamu. Kau tak bisa mengandalkan Dody yang
sekarang sibuk dengan kuliahnya di Amerika sana dan melupakan kekasihnya,”
ujarku.
Kau hanya bisa
memandangku dengan amarah tertahan. Aku tahu kau tersinggung saat aku
menyebut-nyebut kekasih yang sangat kau cintai itu. Aku memang sering
menganggap Dody sebagai seorang pria yang tidak bertanggung jawab karena
meninggalkanmu sendirian di saat seperti ini tanpa pernah memberikan sedikitpun
perhatiannya padamu. Aku muak pada pria seperti itu. Bagiku, Dody tidak pantas
mendapatkanmu. Kau terlalu baik untuknya.
Bukankah kau sering
mengeluh padaku tentang sikap Dody yang sangat jarang mengirimimu surat. Juga
tentang sikapnya padamu yang tidak tampak memendam rindu saat bertemu.
“Apa dia sudah
terpikat pada gadis bule, ya Han?” Tanyamu suatu hari.
“Mungkin saja,”
jawabku.
“Tak mungkin dia tega
seperti itu. Aku percaya padanya.”
“Kau boleh saja
percaya padanya. Tapi jika dia jarang memberikan kabarnya padamu, kau harus curiga.
Bukannya aku bermaksud menakut-nakutimu. Aku hanya ingin agar kau tidak terlalu
percaya pada perasaanmu,” lanjutku kemudian.
Ah, entahlah. Walaupun
kau telah berulang kali meragukan kesetiaan Dody, dan berulang kali pula aku
memberikan nasihat, masih saja kau kembali padanya.
*****
Seminggu berlalu sejak
pagi itu. Dan aku masih merindukan saat-saat bersamamu. Rasanya bayanganmu tak
pernah mau meninggalkan dinding-dinding kamarku. Entahlah, mengapa baru
sekarang aku merasa begitu kesepian, walaupun bayanganmu di mana-mana.
Sudah dua hari aku
berada di kota tercinta, kampung halamanku. Mencoba menjauhi tempat-tempat yang
sering kita kunjungi bersama di kota tempat kita menuntut ilmu. Bukannya aku
ingin melupakanmu, tidak. Aku hanya mencoba untuk sejenak menenangkan diri, aku
tidak ingin terlarut dengan segala kenangan yang selalu muncul setiap kali aku
melewati tempat-tempat tersebut.
Aku bangun saat jam di
dinding menunjukkan pukul 04.45 pagi. Setelah shalat subuh dan beberes
sebentar, aku langsung mengenakan sepatu kets pemberianmu di hari ulang
tahunku.
“Mau kemana Han?”
Tanya mama saat melihatku.
“Joging Ma.”
“Oo, ya sudah, kejar
papamu. Dia sudah pergi dari tadi.”
“Ok Ma.”
Sebenarnya aku tak
berniat untuk joging, aku hanya ingin menikmati indahnya pagi hari. Sejak hari
itu, aku memang selalu terobsesi menikmati pagi dan baru sekarang aku bisa
melakukannya. Aku berharap dengan menikmati pagi dapat sedikit menghapus
kepedihan yang saat ini kembali muncul. Tapi ternyata aku masih tak bisa
melepaskan bayanganmu. Justru saat aku melewati jalan-jalan di daerah ini aku
teringat saat kita bertemu untuk kedua kalinya.
“Hai, gimana kabarmu?”
Sapamu saat itu.
“Oh, hai. Baik, baik.
Eh, kamu! Emangnya rumahmu di mana? Kok bisa sampai sini?” Sahutku terkejut
karena tak menyangka akan bertemu denganmu.
“Aku tinggal di
kompleks ini kok, kamu aja yang nggak tau.”
“Nggak mungkin! Aku
mengenal semua penghuni kompleks ini. Kalau kamu memang tinggal di kompleks ini,
pasti kamu orang baru,” seruku.
“Memang, aku baru
pindah dari Balikpapan, seminggu yang lalu,” ujarmu.
“Wah, kamu nempatin
rumahnya siapa?” Tanyaku lebih lanjut.
“Nggak tau, pokoknya
rumah yang di pojok jalan II,” sahutmu tersenyum manis.
“Rumah yang pagarnya
bercat hijau itu?”
“Yap!”
Lalu obrolan kita
mengalir seperti air, layaknya dua teman akrab yang lama tak berjumpa. Joging
bersama, selanjutnya menjadi acara rutin mingguan kita. Bahkan kita lanjutkan
saat kita kembali ke kota tempat kita menuntut ilmu. Kenangan-kenangan yang
tercipta setiap kali kita joging itulah yang saat ini muncul dan kembali
membuatku pilu karena tanpamu di sisiku lagi.
Aku teringat saat aku
tidak menemukanmu di kampus selama tiga hari. Aku marah. Marah sekali. Karena
kau tidak memberitahukanku saat kau masuk rumah sakit. Hari itu setelah selesai
kuliah penganggaran aku langsung ke rumah sakit di mana kau dirawat.
“Sudahlah Han, aku
nggak apa-apa kok,” ujarmu saat melihatku cemas.
“Kau selalu mengatakan
nggak apa-apa. Bahkan saat kau pingsan pun, hal pertama yang kau ucapkan ketika
bangun adalah ‘Aku nggak apa-apa.’ Aku temanmu Ra!” Sahutku marah.
“Aku tak ingin
membuatmu cemas.”
“Cemas? Cemas katamu!?
Kau telah membuatku marah. Kau tahu aku menyayangimu. Aku sayang kamu, Ra. Aku
sayang kamu lebih dari yang kau kira. Tapi kau tak pernah mau mengerti. Kau
terlalu egois.”
“Han, aku tahu kau
menyayangiku, aku tahu. Aku juga sayang kamu Han. Aku sudah menganggapmu sebagai
kakakku.”
“Lalu mengapa kau
lakukan ini?”
“Aku tak ingin kau
sedih. Aku tahu kau begitu perhatian padaku. Kau pasti akan menghabiskan
waktumu lebih banyak bersamaku kalau kau tahu aku sakit. Itu yang tidak
kuinginkan. Aku tak ingin dikasihani. Aku ingin hidup seperti orang normal. Aku
tak ingin kau perhatikan, kau lindungi seperti porselein antik dari Cina.”
“Tapi aku rela
melakukannya jika perlu.”
“Aku tahu, justru
karena itu aku tak memberitahumu. Aku tak ingin kau perlakukan berlebihan. Aku
tak ingin kau menyia-nyiakan waktumu yang bisa kau pakai untuk menyiapkan diri
mendapatkan beasiswa ke luar negeri yang selama ini menjadi impianmu. Aku ingin
kau berhasil. Aku ingin kau bisa mencapai mimpimu itu. Karena itu, aku ingin
kau mengganggapku sehat yang pasti tidak bisa kau lakukan jika kau tahu aku
sekarat.”
“Ra, hati-hati kalau
ngomong.”
“Tidak Han, aku tahu
aku sudah hampir selesai. Dokter sudah mengangkat tangan. Tak ada lagi yang
dapat dilakukan dokter selain terus mencoba mempertahankan selembar nyawa di
tubuhku untuk tetap tinggal walau mungkin hanya untuk satu dua hari. Kemarin
pagi dokter Irene sudah menelepon mama, meminta beliau untuk datang menemaniku
di sini.”
Ketegaran. Satu kata
yang selalu muncul setiap kali aku mengingatmu. Dan itu pula yang sekarang coba
aku lakukan. Aku belajar banyak tentang kehidupan darimu. Bagaimana untuk tetap
tegar menghadapi segala cobaan, mensyukuri segala rahmat tuhan kepada kita,
serta memandang kehidupan dengan penuh makna.
*****
Matahari menggantung
di sudut barat langit. Sinarnya yang jingga seakan mengucapkan selamat tinggal
pada bumi setelah seharian ia menjalankan tugas. Daun-daun dan bunga kamboja
yang gugur berserakan di tanah basah. Beberapa tetes air, sisa hujan tadi, yang
masih menggantung di dedaunan mulai jatuh. Aku masih berdiri di sini. Dengan
jaket dan celana jeans yang basah, di samping gundukan tanah tempat kau
berbaring dengan tenang.
Hari ini, untuk
kesekian kalinya, aku merenungi apa yang telah kita jalani bersama. Dan untuk
kesekian kalinya pula aku melakukannya di peristirahatanmu yang terakhir. Aku
merasa kau ada di sampingku untuk membantuku memahami kehidupan ini. Mengenai
pendeknya waktu yang disediakan sang pencipta untuk menjalani hidup dan
mengenai betapa berharganya hidup itu.
Perlahan aku beranjak
meninggalkan tanah pekuburan ini. Tanah tempat seorang sahabat yang telah
memberi arti dalam hidupku, beristirahat dalam damai. Masih tersimpan dalam
ingatanku saat kita pertama kali berkenalan.
“Tiara. Kianti
Wahyuning Tiara,” jawabmu langsung sambil tersenyum.
Juli 6, 2000