Gue inget waktu pertama kali gue pake
kacamata. Waktu itu jam pelajaran baru dimulai, dengan perlahan gue ngluarin
kacamata yang baru jadi malam sebelumnya. Saat gue pake, kontan kelas pada
heboh. Mereka penasaran ingin melihat tampang gue yang langsung berubah jadi
mirip sama Clark Kent (padahal
sumpeh, pas sebelum pake kacamata gue nggak mirip sama sekali dengan Superman).
Kebetulan gue duduk paling depan, otomatis sebagian besar temen-temen gue nggak
bisa ngliat tampang gue yang makin tambah cakep itu. Maka hebohlah mereka
manggil-manggil nama gue, cuma biar bisa ngliat tampang imut gue. Tiba-tiba gue
jadi seleb!!!
Itu pengalaman gue pas pake kacamata
pertama kali. Tapi yang ingin gue omongin di sini bukan kacamata sebagai alat
bantu penglihatan gue. Kacamata yang ingin gue omongin di sini adalah sudut
pandang yang kita pakai untuk melihat sesuatu (kalau kata temen gue, Paradigma
Rusady). Ya, sama aja lah kaya kacamata. Alat untuk melihat sesuatu.
Secara nggak sadar, saat kita melihat sesuatu dan lalu memahaminya, kita dipengaruhi oleh sudut pandang yang kita pakai. Suatu kejadian bisa menjadi lebih dari satu maknanya jika dilihat dengan kacamata yang berbeda. Kerena itulah, menurut gue, pada beberapa hal, sesuatu itu jahat atau baik sangat tergantung dari kacamata yang kita pakai untuk melihatnya. Bagi orang kaya di dekat hutan Sheerwood, Robin Hood adalah perampok yang meresahkan dan ngejengkelin, tapi bagi para orang miskin yang hidupnya susah, Robin Hood adalah sosok pahlawan yang sangat mereka dambakan.
Untungnya, kita selalu bisa memilih mau menggunakan kacamata apa untuk melihat suatu kejadian. Idealnya sih kita menggunakan banyak kacamata untuk melihat sesuatu, jadi tidak terjadi salah tangkap. Istilahnya kita melihat secara keseluruhan dan komprehensif (halah, makanan apa ya itu?) Gue yakin, dengan melihat secara lengkap kita tidak akan mudah untuk menghakimi seseorang atau sesuatu dengan asal, hingga kita akan lebih bijak dalam menyikapi sesuatu.
Contoh aja, (cerita ini pernah gue baca di mana gitu, tapi gue lupa. jadi maafin kalau gue nggak nyantumin sumbernya dan ngutip seinget gue aja ya) kita ketemu seorang bapak di kereta api yang membawa anak-anaknya. Saat orang lain sedang istirahat, anak-anak itu ribut berteriak-teriak mengganggu. Sementara sang bapak hanya duduk diam melamun. Mungkin kita akan merasa jengkel dan akan menegur bapak itu dengan nada sedikit marah agar menertibkan anak-anaknya. Hati kita udah jengkel banget karena waktu istirahat kita di kereta terganggu. Tapi, bayangkan kalau bapak itu langsung minta maaf dan bercerita kalau dia lagi sedih karena baru dari rumah sakit menjenguk istrinya dan dokter baru mengatakan kalau umur istrinya tinggal 2 hari lagi. Apa kita masih akan marah?
Gue yakin kita nggak akan marah, malah
mungkin akan bersimpati (kalau kita punya nurani tentunya) pada bapak itu. Saat
awal bapak itu naik kereta, kita menggunakan kacamata penumpang yang terganggu
waktu istirahatnya. Dan ketika bapak itu bercerita tentang istrinya, kita
menggunakan kacamata seorang ayah yang sedih menghadapi kemungkinan kehilangan
orang yang sangat disayangi, dan harus membesarkan anak-anaknya sendirian.
Itu lah kenapa kita harus menggunakan
banyak kacamata. Dengan menggunakan kacamata orang lain, kita jadi bisa
mengerti mengapa dia melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat kita juga
lebih bisa memahami dia. Efek sampingnya, kita nggak akan cepat marah kalau
melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dan Insya allah hidup akan lebih indah
kalau kita melakukannya. Begitu..