Sabtu, 23 Agustus 2014

Kacamata

Gue inget waktu pertama kali gue pake kacamata. Waktu itu jam pelajaran baru dimulai, dengan perlahan gue ngluarin kacamata yang baru jadi malam sebelumnya. Saat gue pake, kontan kelas pada heboh. Mereka penasaran ingin melihat tampang gue yang langsung berubah jadi mirip sama Clark Kent (padahal sumpeh, pas sebelum pake kacamata gue nggak mirip sama sekali dengan Superman). Kebetulan gue duduk paling depan, otomatis sebagian besar temen-temen gue nggak bisa ngliat tampang gue yang makin tambah cakep itu. Maka hebohlah mereka manggil-manggil nama gue, cuma biar bisa ngliat tampang imut gue. Tiba-tiba gue jadi seleb!!!

Itu pengalaman gue pas pake kacamata pertama kali. Tapi yang ingin gue omongin di sini bukan kacamata sebagai alat bantu penglihatan gue. Kacamata yang ingin gue omongin di sini adalah sudut pandang yang kita pakai untuk melihat sesuatu (kalau kata temen gue, Paradigma Rusady). Ya, sama aja lah kaya kacamata. Alat untuk melihat sesuatu.

Secara nggak sadar, saat kita melihat sesuatu dan lalu memahaminya, kita dipengaruhi oleh sudut pandang yang kita pakai. Suatu kejadian bisa menjadi lebih dari satu maknanya jika dilihat dengan kacamata yang berbeda. Kerena itulah, menurut gue, pada beberapa hal, sesuatu itu jahat atau baik sangat tergantung dari kacamata yang kita pakai untuk melihatnya. Bagi orang kaya di dekat hutan Sheerwood, Robin Hood adalah perampok yang meresahkan dan ngejengkelin, tapi bagi para orang miskin yang hidupnya susah, Robin Hood adalah sosok pahlawan yang sangat mereka dambakan.

Untungnya, kita selalu bisa memilih mau menggunakan kacamata apa untuk melihat suatu kejadian. Idealnya sih kita menggunakan banyak kacamata untuk melihat sesuatu, jadi tidak terjadi salah tangkap. Istilahnya kita melihat secara keseluruhan dan komprehensif (halah, makanan apa ya itu?) Gue yakin, dengan melihat secara lengkap kita tidak akan mudah untuk menghakimi seseorang atau sesuatu dengan asal, hingga kita akan lebih bijak dalam menyikapi sesuatu.

Contoh aja, (cerita ini pernah gue baca di mana gitu, tapi gue lupa. jadi maafin kalau gue nggak nyantumin sumbernya dan ngutip seinget gue aja ya) kita ketemu seorang bapak di kereta api yang membawa anak-anaknya. Saat orang lain sedang istirahat, anak-anak itu ribut berteriak-teriak mengganggu. Sementara sang bapak hanya duduk diam melamun. Mungkin kita akan merasa jengkel dan akan menegur bapak itu dengan nada sedikit marah agar menertibkan anak-anaknya. Hati kita udah jengkel banget karena waktu istirahat kita di kereta terganggu. Tapi, bayangkan kalau bapak itu langsung minta maaf dan bercerita kalau dia lagi sedih karena baru dari rumah sakit menjenguk istrinya dan dokter baru mengatakan kalau umur istrinya tinggal 2 hari lagi. Apa kita masih akan marah?

Gue yakin kita nggak akan marah, malah mungkin akan bersimpati (kalau kita punya nurani tentunya) pada bapak itu. Saat awal bapak itu naik kereta, kita menggunakan kacamata penumpang yang terganggu waktu istirahatnya. Dan ketika bapak itu bercerita tentang istrinya, kita menggunakan kacamata seorang ayah yang sedih menghadapi kemungkinan kehilangan orang yang sangat disayangi, dan harus membesarkan anak-anaknya sendirian.

Itu lah kenapa kita harus menggunakan banyak kacamata. Dengan menggunakan kacamata orang lain, kita jadi bisa mengerti mengapa dia melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat kita juga lebih bisa memahami dia. Efek sampingnya, kita nggak akan cepat marah kalau melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dan Insya allah hidup akan lebih indah kalau kita melakukannya. Begitu..

Senyummu

Malam ini bulan tidak terlihat indah. Aku tidak pernah suka bentuk bulan kecuali purnama. Bagiku purnama adalah bentuk bulan yang paling indah. Malam ini bulan berbentuk lengkungan tipis. Tak heran, karena baru lima hari yang lalu ramadhan berlalu. Lengkungan bulan mengingatkanku pada senyummu.

Bukan pada seringnya aku melihat senyummu, tapi justru pada hampir tidak pernahnya aku melihat senyum dari bibirmu yang indah itu. Sayang memang, tapi itulah dirimu. Terlihat indah dalam diam dan dinginnya ekspresi di wajahmu.

Percobaan pertama

apa ya yang akan ditulis? saat ini sih belum ada ide. baru mencoba doang